MAKALAH STATISTIKA NON PARAMETRIK “UJI MANN WHITNEY U, KOLMOGOROV-SMIRNOV DAN KRUSKALL WALLIS SERTA POST HOCK DAN ANALISISNYA”



BERIKUT VIDEO PENJELASAN MAKALAH:




MAKALAH STATISTIKA NON PARAMETRIK

UJI MANN WHITNEY U,  KOLMOGOROV-SMIRNOV

DAN KRUSKALL WALLIS SERTA POST HOCK DAN ANALISISNYA”


 

TUGAS MATA KULIAH

STATISTIKA TERAPAN

Muhammad Basir


                                                                                        

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Secara garis besar terdapat 2 jenis ilmu statistika, yakni statistik parametrik dan statistik non-parametrik. Statistik parametrik merupakan ilmu statistika yang mempertimbangkan jenis sebaran/distribusi data, yaitu apakah data menyebar normal atau tidak. Statistik parametik lebih banyak digunakan untuk menganalisis data yang berskala interval dan rasio dengan dilandasi asumsi tertentu seperti normalitas. Contoh metode statistika parametrik: uji-z (1 atau 2 sampel), uji-t (1 atau 2 sampel), korelasi pearson,

Sedangkan Statistik non-parametrik merupakan statistik bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi, baik normal atau tidak). Statistika non-parametrik biasanya digunakan untuk melakukan analisis pada data berjenis nominal atau ordinal namun terkadang dapat juga digunakan pada data interval atau rasio. Data berjenis Nominal dan Ordinal tidak menyebar normal. Statistika nonparametik dapat digunakan untuk menganalisis data yang berskala nominal, ordinal, interval atau rasio. Contoh metode Statistika non-parametrik: Mann Whitney (U test), Kolmogorov-Smirnov test, Kruskal Wallis Test, Median test, Friedman Test, dan lain-lain.

Namun terkadang kita masih belum mengetahui sepenuhnya tentang metode-metode tersebut. Khususnya metode statistik non-parametrik, fungsi serta tujuannya, dan bagaimana langkah-langkah dalam menggunakan metode-metode tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan berupaya menjelaskan secara singkat mengenai metode non parametrik khususnya: Mann Whitney U test, Kolmogorov-Smirnov test, Kruskal-Wallis test, dan uji lanjut /post hoc test beserta analisisnya 


B.      Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud uji statistik non parametrik Mann Whitney ?

2.      Apa yang dimaksud uji statistik non parametrik Kolmogorov – Smirnov ?

3.      Apa yang dimaksud uji statistik non parametrik Kruskal-Wallis?

4.      Apa yang dimaksud uji statistik Post Hoc?

 C.     Tujuan Penulisan

1.      Menjelaskan tentang uji statistik non parametrik Mann Whitney

2.      Menjelaskan tentang uji statistik non parametrik Kolmogorov – Smirnov

3.      Menjelaskan tentang uji statistik non parametrik Kruskal-Wallis

4.      Menjelaskan tentang uji statistik Post Hoc

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    UJI NON PARAMETRIK

Statistik Non Parametrik merupakan bagian statistik yang parameter dari populasinya tidak mengikuti suatu distribusi tertentu atau memilki distribusi yang bebas persyaratan dan variannya tidak perlu homogen. Dalam sejumlah uji statistik nonparametrik hanya menetapkan asumsi/persyaratan bahwa observasi-observasinya harus independen dan bahwa varibel yang diteliti pada dasarnya harus memiliki kontinuitas serta dalam pengujiannya nanti sebagian besar datanya berupa data rangking

Statistic non parametrik memiliki kelebihan dan kekurangan. adapun keuntungan dari penggunaan prosedur-prosedur dari Statistik Non Parametrik adalah sebagai berikut:

1.     Pernyataan kemungkinan yang diperoleh dari sebagian besar tes statistik non parametrik  adalah kemungkinan yang eksak. Dimana tes non parametrik menggangap bahwa distribusi yang mendasarinya dalah kontinyu sama dengan anggapan yang dibuat tes-tes parametrik.

2.     Terdapat tes-tes Statistik Non Parametrik untuk mengarap sampel-sampel yang terdiri dari observasi-observasi dari beberapa populasi yang berlainan, selain itu statistik non parametrik dapat digunakan pada sampel yang sifat distribusinya tidak diketahui secara pasti.

3.     Tes- tes Statistik Non Parametrik dapat menggarap data yang berupa rangking dan data yang skor-skornya sepintas memilkik kekuatan rangking. Selain itu juga dapat menggarap data berupa klasifikasi semata yang diukur dalam skala nominal.

4.     Tes-tes Statistik Non Parametrik lebih muda dipelajari karena metode-metodenya tidak memerlukan dasar matematika serta statistika yang mendalam dibandingkan dengan Parametrik, dan juga memiliki kemungkinan untuk digunakan secara salah juga kecil karena memerlukan asumsi dalam jumlah minimum. (Frisztado, 2010)

Sedangkan kekurangan dari pengunaan prosedur-prosedur model Statistik Non Parametrik adalah :

1.      Penggunaan Statistik Non Parametrik akan menjadi penghamburan data jika data memenuhi syarat model statistik parametrik,

2.      Belum  ada satu pun dalam metode Statistik Non Parametrik untuk mengukur interaksi-interaksi dalam model analisis varian,

3.      Penggunanaan Statistik Non Parametrik memerlukan banyak tenaga serta menjemukan.

asumsi-asumsi yang jauh tidak mengikat di bandingkan dengan uji parametrik. Kapankah metode nonparametrik seharusnya dipakai, yaitu:

1.     Apabila ukuran sample demikian kecil sehingga distribusi statistika pengambilan sample tidak mendekati normal, dan apabila tidak ada asumsi yag dapat dibuat tentang bentuk distribusi normal yang menjadi sumber sample.

2.     Apabila digunakan data peringkat atau ordinal(data ordinal hanya memberikan informasi tentang apakah suatu item lebih tinggi, lebih rendah atau sama dengan ite lainnya, data ini sama sekali tidak menyatakan ukuran perbedaan

Apabila data nominal digunakan. Data nominal adalah data dimana sebutan seperti laki-laki atau perepuan diberikan kepada item dan tidak ada implikasi didalam sebutan tersebut bahwa item yang satu lebih tinggi atau lebih rendah daripada item lainnya.

(Frisztado, 2010)

B.    UJI NON PARAMETRIK MANN-WHITNEY

1.     Pengertian Uji Mann Whitney U

Mann Whitney (U Test) disebut juga dengan Wilcoxon Rank Sum Test. Merupakan pilihan atau alternatif uji non parametris apabila uji Independent T Test tidak dapat dilakukan oleh karena asumsi normalitas tidak terpenuhi. Tetapi meskipun bentuk non parametris dari uji independent t test, uji Mann Whitney U Test tidak menguji perbedaan Mean (rerata) dua kelompok seperti layaknya uji Independen T Test, melainkan untuk menguji perbedaan Median (nilai tengah) dua kelompok. Tetapi beberapa ahli tetap menyatakan bahwasanya uji Mann Whitney U Test tidak hanya menguji perbedaan Median, melainkan juga menguji Mean. Mengapa seperti itu? karena dalam berbagai kasus, Median kedua kelompok bisa saja sama, tetapi nilai P Value hasilnya kecil yaitu < 0,05 yang berarti ada perbedaan. Penyebabnya adalah karena Mean kedua kelompok tersebut berbeda secara nyata. Maka dapat disimpulkan bahwa uji ini bukan hanya menguji perbedaan Median, melainkan juga perbedaan Mean.

Uji Mann-Whitney biasanya digunakan dalam berbagai bidang, terutama lebih sering dalam Psikologi , pendidikan, medik/perawatan dan bisnis. Misalnya, pada psikologi atau pendidikan, uji Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan sikap dan perilaku, dan lain-lain. Dalam bidang pengobatan, uji Mann-Whitney  digunakan untuk mengetahui efek obat apakah sama atau tidak, selain itu juga bisa digunakan untuk menguji apakah obat tertentu dapat menyembuhkan penyakit atau tidak.

Asumsi yang berlaku dalam uji Mann-Whitney adalah:

·       Variabel dependen harus diukur dalam skala interval, rasio atau ordinal.

·       Group atau sampel yang ingin dibandingkan terdiri dari dua group/kelompok saja.

·       Sampel harus saling bebas, baik antar group maupun di dalam group itu sendiri. Artinya data berasal dari kelompok yang berbeda atau tidak berpasangan.

·       Data tidak harus berdistribusi normal. sehingga tidak perlu uji normalitas

·       Untuk dapat menginterprestasikan dengan benar hasil Uji Mann-Whitney maka terlebih dahulu harus dicek apakah data disetiap group memiliki ragam yang sama atau bentuk sebaran yang sama.  (Budi Susetyo, 2012)

Uji Mann-Whitney, atau U test merupakan bagian dari statistik nonparametrik yang digunakan pada analisis komparatif untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang saling independen yang tidak mengasumsikan distribusi normal. Adapun cara menentukan nilai uji statistik Mann-Whitney (nilai U) adalah sebagai berikut :

1.     Menentukan formula hipotesis

H0 : tidak terdapat perbedaan data satu dengan yang lainnya.

H1 : terdapat perbedaan data satu dengan yang lainnya.

2.     Menentukan taraf nyata (α) dan U tabel.

Taraf nyata yang biasa digunakan biasanya 5% atau 1%. Nilai U dilihat dari tabel harga-harga kritis dalam uji Mann Whitney.

3.     Menentukan kriteria uji.

Tolak H0 jika U hitung < U tabel. Terima dalam hal lainnya.

4.     Menentukan nilai uji statistik (uji U)

Penentuan nilai uji statistik melalui tahap-tahap sebagai berikut:

a. Nilai pengamatan (skor) kedua sampel yang berukuran n1 dan n2 digabungkan, kemudian diranking (nilai pengamatan yang sama, rankingnya adalah rata-ratanya).

b. Tentukan R1 dan R2, yaitu jumlah ranking gabungan n1 dan n2.

 

c. Tentukan nilai U:

Dimana:

U1 = jumlah peringkat 1

U2 = jumlah peringkat 2

n1 = jumlah sampel 1

n2 = jumlah sampel 2

R1 = jumlah ranking padasampel n1

R2 = jumlah ranking pada sampel n2

Nilai U yang diambil adalah nilai U terkecil dan untuk memeriksa ketelitian  perhitungan digunakan rumus:

5.     Bandingkan statistik U dengan nilai U pada Tabel U Mann-Whitney

pada taraf nyata 0,05. Kriteria uji: Tolak H0 jika p (U) ≤ α untuk Uji satu pihak, atau p (U) ≤ α/2 untuk Uji dua pihak.Untuk n > 20, digunakan pendekatan ke normal z dimana:

             Kriteria: Tolak H0 jika p (Z ≤ z) ≤ 0,05

(David Sheskin, 2000)

2.     Uji Mann Whitney (U Test) Secara Manual dan Menggunakan SPSS

              Kita akan  mempelajari cara melakukan uji Mann Whitney U Test dengan menggunakan aplikasi SPSS. Sebenarnya Mann Whitney U Test dengan SPSS sangatlah mudah dilakukan oleh para peneliti atau mahasiswa. Namun bagi yang belum berpengalaman, ada baiknya kita coba pelajari kembali tutorial Mann Whitney U Test dengan SPSS berdasarkan contoh berikut ini :

              Peneliti ingin mempelajari efektivitas implementasi KTSP dan Kurikulum 2013 dalam meningkatkan High Order Thinking Skills (HOT) maka pelajaran Fisika di SMA yang tercermin dari rata-rata kemampuan pemecahan masalah Fisika yang diperoleh siswa setelah pemberlakuan kedua kurikulum tersebut. Agar kedua pemberlakuan kurikulum dapat diperbandingkan (comparable) maka kedua kelompok sampel yang dipilih harus ekivalen dari segi IQ, social ekonomi, minat, sikap, dan kesungguhan. Untuk maksud tersebut telah dipilih secara acak 8 siswa yang telah mengikuti KTSP dan 5 siswa yang sedang mengikuti Kurikulum 2013. Skor kemampuan pemecahan masalah Fisika siswa dengan kedua kurikulum tersebut, disajikan pada table berikut.

KTSP

KURIKULUM 2013

Inisial Siswa

Inisial Siswa

S1

S2

S3

S4

S5

S6

S7

S8

M1

M2

M3

M4

M5

 

76

82

70

83

94

90

78

75

84

100

78

98

95

 

Tabel 1.1 Data nilai dan kurikulum

a)    Menentukan Secara Manual

-       Menentukan Hipotesis

H0 = Kemampuan pemecahan masalah Fisika siswa dengan Kurikulum KTSP lebih tinggi dibandingkan dengan Kurikulum 2013

H1 = Kemampuan pemecahan masalah Fisika siswa dengan Kurikulum KTSP lebih rendah dibandingkan dengan Kurikulum 2013

-       Nilai U kritis :

            Pada saat α=0,05 dengan n1 = 8 dan n2 = 5 diperoleh U(0.05)(8;5) = 8

-       Mengurutkan data dari yang terkecil menuju yang terbesar: Skor terkecil diberi angka 1 dan yang lebih besar diberi angka 2 dst.

Skor KTSP

Skor KUR 2013

Rangking KTSP

 

 

Rangking KUR

2013

 

 

 

 

 

70

78

1

 

4.5

75

84

2

 

8

76

95

3

 

11

78

98

4.5

 

12

82

100

6

 

13

83

 

7

 

 

90

 

9

 

 

94

 

10

 

 

n1=8

n2 = 5

K1 = 42.5

 

K2 = 48.5

 

                                        Tabel 1.2 Perbedaan Rangking

-       Menghitung statistik U melalui rumus berikut :

Nilai U ditentukan berdasarkan nilai terkecil dari rumus diatas, yaitu U + 6.5. Untuk Memerikasa kebenaran hasil ini, dapat dicek dengan rumus :

Uterkecil = n1n2 – Uterbesar = 40 – 33.5 = 6.5 (Benar)

-       Menentukan nilai Statistik Uji U


                                        Gambar 1.1 Nilai kritis Mann-Whitney

-       Membuat kesimpulan

Tolak H0  jika statistik U ≤ Ukritis dan terima H0  jika U > U kritis. Karena 6.5 ≤ U(0.05)(8;5) = 8, maka H0 ditolak atau kemampuan pemecahan masalah Fisika siswa pada kurikulum KTSP lebih rendah dibandingkan kurikulum 2013. Dengan demikian, implementasi kurikulum 2013 lebih efektif meningkatkan HOT dalam pembelajaran Fisika daripada KTSP.

b)    Menentukan Menggunakan SPSS

1.       Buka SPSS dengan cara double klik icon SPSS, pada Data View masukkan data diatas. Pada kolom pertama massukan skor variabel Kurikulum. Selanjutnya pada kolom kedua tuliskan variabel Group (Kelompok) dengan angka 1 untuk Kurikulum 2013 dan angka 2 untuk KTSP.

                                     Gambar 1.2 Data nilai dan kurikulum

2.      Selanjutnya pada Variabel View kolom Values, baris Group tuliskan angka 1 = KUR 2013 dan klik Add, angka 2 = KTSP dan klik Add. Sebagaimana ditampilkan pada kotak berikut.

                                                             Gambar 1.3 Value label

3.       Klik OK dan kembali ke Data View, pada menu utama SPSS klik Analyze dan pilih Nonparametric test dan pilih Legacy Dialogs serta 2 Independent Samples. Destinasikan variabel kurikulum pada kotak Test Variabel List dan variabel Group pada Grouping Variabel. Sebagaimana tampilan berikut

Gambar 1.4  Menu Independent sample

4.     Klik Define Groups, isikan angka 1 pada Group 1 dan angka 2 pada Group 2.


Gambar 1.5 Menu Independent sample

5.     Kemudian klik continue untuk kembali ke menu List Independent Sample Test dan pada Test Type pilih Mann-Whitney U, kemudian OK, sehingga akan muncul output.

                                    Gambar 1.6 Data hasil Mann-Whitney test SPSS

 Interpretasi:

Pada Tabel Ranks, kolom Sum of Ranks, diperoleh jumlah Ranking KUR 2013 = 42,50 dan Ranks KTSP = 48,50. Selanjutnya pada tabel Test Statistics, baris Mann-Whitney U diperoleh harga U = 6,5 dan p-value =0,082/2 = 0,024 < 0,05 atau H0 ditolak, sehingga kemampuan pemecahan masalah fisika siswa dengan Kurikulum KTSP lebih rendah dibandingkan dengan Kurikulum 2013. Dengan demikian, implementasi kurikulum 2013 lebih efektif meningkatkan kemampuan HOTS dalam pembelajaran Fisika daripada KTSP.

Ananlisis statistik Mann-Whitney U

Output utama dari analisis mann-whitney U adalah pada tabel kedua. Untuk menguji hipotesis, kita bisa lihat pada nilai Mann-whitney U dan asymp sig (2-tailed). Dari hasil analisis didapatkan nilai mann-whitney u sebesar 6,500 dengan p>0,05. Patokan untuk menilai uji statistik adalah sebagai berikut.

·         jika sig: p > 0,05 maka tidak ada perbedaan.

·         jika sig: p < 0,05 maka ada perbedaan pada taraf sig 5%

·         jika sig: p < 0,01 maka ada perbedaan pada taraf sig 1%

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan konsentrasi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (mann-whitney u=6,500; Z = -1,979; p>0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa musik klasik tidak efektif untuk meningkatkan konsentrasi.

C.    UJI NON PARAMETRIK KOLMOGOROV SMIRNOV

1.     Pengertian Uji Kolmogorov Smirnov

Uji Kolmogorov Smirnov termasuk dalam uji statistik nonparametric yang mana merupakan pengujian normalitas yang banyak dipakai, terutama setelah adanya banyak program statistik yang beredar. Kelebihan dari uji ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat yang lain, yang sering terjadi pada uji normalitas dengan menggunakan grafik.

Seperti pada uji beda biasa, jika signifikansi di bawah 0,05 berarti terdapat perbedaan yang signifikan, dan jika signifikansi di atas 0,05 maka tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Penerapan pada uji Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji tersebut tidak terdistribusi normal. Sedangkan jika signifikansinya di atas 0,05 maka data tersebut terdistribusi normal. Data yang diambil dinyatakan berdistribusi normal, apabila frekuensi pengamatan (sampel) sesuai dengan frekuensi yang diharapkan (populasi). Artinya sampel yang diambil sudah bisa mewakili seluruh populasi.

Asumsi :

1).Data berskala interval atau ratio (kuantitatif)

2). Data tunggal / belum dikelompokkan pada tabel distribusi frekuensi

3). Masing-masing sampel mempunyai data paling rendah berskala ordinal

4). Dapat digunakan untuk n besar maupun n kecil

5). Menggunakan pendekatan distribusi frekuensi kumulatif dan data untuk masing-

      masing sampel observasi disusun dalam bentuk interval-interval kelas.

Catatan : interval kelas untuk sampel 1 dan sampel 2  dibuat sama dengan catatan tidak boleh terlalu sedikit. Apabila dengan jumlah interval yang terlalu sedikit kemungkinan Ho diterima, maka diijinkan untuk membuat klasifikasi atau interval kelas yang baru dengan jumlah interval lebih banyak sebelum memutukan Ho.

         Secara umum uji Kolmogorov Smirnov digunakan untuk memeriksa apakah data hasil sampling tertentu berasal dari suatu populasi dengan distribusi peluang teoritis tertentu. Distribusi peluang teoritis yang dimaksud disini adalah sembarang distribusi peluang teoritis yang kontinu seperti distribusi normal.

(David Sheskin, 2000)

Pengujian normalitas data hasil penelitian dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a)   Perumusan Hipotesis :

H0 : Sampel berasal dari populasi berdistibusi normal

H1 : Sampel berasal dari populasi berdistibusi tidak normal

b)  Data diurutkan dari yang terkecil ke terbesar.

c)   Menentukan Kumulatif Proporsi (kp)

d)  Data ditransformasi ke skor baku :

Keterangan :

e)   Menentukan luas kurva zi (z-tabel)

f)   Menentukan nilai distribusi kumulatif nya :

       Dari nilai baku Z ditentukan nilai probabilitas kumulatif S(Xi)= P(Z Zi) berdasarkan Distribusi Normal

       nilai probabilitas harapan/teoritis kumulatif F0(xi). F0(xi)=

g)  Nilai mutlak maksimum dari a1 dan a2 dinotasikan dengan Do

h)  Menentukan harga tabel D (Wayne. W. Daniel, 1990 : 571)

Untuk n = 10 dan α =0,05, diperoleh D-tab = 0,410

i)    Kriteria pengujian :

Jika D0  ≤  D-tab maka H0  diterima

Jika D0  >  D-tab maka H0  ditolak

j)    Kesimpulan :

D0  ≤  D-tab = Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

D0  >  D-tab = Sampel berasal dari populasi berdistibusi tidak normal

Prosedur Analisis :

1). Buatlah interval kelas yang sama untuk kedua distribusi, selanjutnya hitunglah frekuensi untuk tiap interval kelas pada tiap kelompok sampel.

2). Tentukan selisih antara kedua distribusi kumulatif  sesuai dengan titik-titik interval kelas yang ada.

3). Tentukan selisih terbesar atau deviasi terbesar, selanjutnya identifikasi selisih terbesar itu sebagai D.

Tes Statistik dan metode untuk menetapkan signifikansi harga D

Untuk menetapkan signifikansi harga D tergantung pada ukuran sampel dan sifat/ arah hipotesisnya.

a). Pengujian hipotesis 2 arah (two tailed test).

Ø  Apabila N  <  40  di mana n1 = n2 = N 

Untuk menentukan hasil analisis menggunakan rumus  D = maks. I Sn1 (x) – Sn2 (X)  I D yang dimaksud adalah pembilang terbesar dari selisih tersebut dan selanjutnya disebut KD. Untuk tes ini sebagai titik kritis digunakan tabel L dalam berbagai tingkat signifikansi baik untuk tes satu sisi maupun tes dua sisi.

Ø  Apabila masing-masing n > 40

Dalam kasus ini n1 tidak harus sama dengan n2. Tes statistiknya sama dengan tes diatas tetapi hasilnya akan menunjuk pada bilangan desimal. Harga D dalam kasus ini bukan merupakan pembilang tetapi benar-benar merupakan selisih antara 2 sampel dan ditunjukkan dengan bilangan desimal.Titik kritis untuk kasus ini terletak pada tabel M dengan catatan titik kritis hanya memberikan petunjuk dan disesuaikan dengan besar n dan taraf signifikansi.    

b). Pengujian hipotesis 1 sisi (one tailed test)

Ø  Apabila N < 40,    n1= n2 = N  <  40

Pada kasus ini tes statistiknya adalah  D = maks   {Sn1 (X) – Sn2 (X)} D dalam hal ini  adalah pembilang terbesar dari selisih antara 2 kelompok sampel.Titik kritis terletak pada tabel  L.

Ø  Apabila masing-masing n  >  40

                Tes statistik untuk menentukan D analisis sama dengan diatas dan D adalah selisih terbesar (bukan pembilang). Untuk tes satu sisi di mana masing-masing n > 40 maka dilakukan pendekatan pada distribusi Chi Square dengan tes sebagai berikut.

Untuk kasus ini titik kritis terletak pada tabel C dengan db = 2

Keputusan :  Hipotesis nol ditolak jika D hasil analisis >  D tabel atau titik kritis.

(David Sheskin, 2000)

2.     Uji Kolmogorov Smirnov Secara Manual dan Menggunakan SPSS

Dalam sebuah penelitian diperoleh nilai ulangan Fisika Siswa SMA Kelas X dengan sampel sebanyak 27 orang diambil secara random, didapatkan data sebagai berikut ; 78, 78, 95, 90, 78, 80, 82, 77, 72, 84, 68, 67, 87, 78, 77, 88, 97, 89, 97, 98, 70, 72, 70, 69, 67, 90, 97. Selidikilah dengan a = 5%, apakah data tersebut di atas diambil dari populasi yang berdistribusi normal ?

a)    Menentukan Secara Manual

-       Merumuskan Hipotesis

H0 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

H1 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi tidak normal

-       Menentukan taraf signifikansiα= 5% =0,05

-       Data diurutkan dari yang terkecil ke terbesar

 

 

 

 

 

 

 

X i  -

μ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Z =

 

 

 

NO

Xi

 

σ

S(Xi)

F0(xi)

½ F0(x) – S(xi) ½

 

 

 

1

 

67

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

67

 

-1,3902

0,0823

0,0741

0,0082

3

 

68

 

-1,2929

0,0985

0,1111

0,0126

4

 

69

 

-1,1957

0,1151

0,1481

0,0330

5

 

70

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

 

70

 

-1,0985

0,1357

0,2222

0,0865

7

 

72

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

 

72

 

-0,9040

0,1841

0,2963

0,1122

9

 

77

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10

 

77

 

-0,4178

0,3372

0,3704

0,0332

11

 

78

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

 

78

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13

 

78

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14

 

78

 

-0,3205

0,3745

0,5185

0,1440

15

 

80

 

-0,1261

0,4483

0,5556

0,1073

16

 

82

 

0,0684

0,5279

0,5926

0,0647

17

 

84

 

0,2629

0,6026

0,6296

0,0270

18

 

87

 

0,5546

0,7088

0,6667

0,0421

19

 

88

 

0,6519

0,7422

0,7037

0,0385

20

 

89

 

0,7491

0,7734

0,7407

0,0327

21

 

90

 

 

 

 

 

 

 

 

 

22

 

90

 

0,8464

0,8023

0,8148

0,0125

23

 

95

 

1,3326

0,9082

0,8519

0,0563

24

 

97

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25

 

97

 

 

 

 

 

 

 

 

 

26

 

97

 

1,5270

0,9370

0,9630

-0,0260

27

 

98

 

1,6243

0,9474

1,0000

-0,0526

 

 

 

 

81,2963

 

 

 

 

 

 

 

X

 

 

 

 

 

 

 

 

 σ

10,28372

 

 

 

 

 

Tabel 2.1 Hasil Perhitungan Uji Kolmogorov

 -       Menentukan nilai z tabel (Normal Baku)


Gambar 2.1 Nilai Z Tabel (Normal Baku)

-       Menentukan Nilai D tabel

Gambar 2.2 Nilai D Tabel

Berdasarkan nilai α = 0,05 ; N = 27 maka nilai D tabel dilihat dari tabel Nilai Kritis D untuk Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov (p.303), diperoleh : Dtabel = 0,254

-       Membuat keputusan menolak atau tidak menolak hipotesis nol

Nilai mutlak maksimum F0(xi) dan S(Xi) adalah sebagai D hitung :

D = maks | F0(Xi) – S(Xi) |

D = 0,1440

Maka Daerah penolakan menggunakan rumus :

        Dhitung  < Dtabel  =0,1440  <  0,2540 ; berarti Ho diterima, H1 ditolak

Kesimpulan :   Data berasal dari populasi yang berdistribusi hasil normal.

b)    Menentukan Menggunakan SPSS

1.     Persiapkan data yang ingin diuji dalam file doc, excel, atau yang lainnya untuk mempermudah tahapannya nanti. Contohnya data sampel nilai ulangan Fisika Siswa SMA Kelas X dengan sampel sebanyak 27 orang diambil secara random

Gambar 2.3 Data Uji Kolmogorov smirnov

2. Buka program SPSS pada komputer, klik Variable View, dibagian pojok kiri bawah.

3. Selanjutnya, pada bagian Name tulis saja Nilai, Pada Decimals ubah semua menjadi angka 1, pada bagian Label kosongkan, kemudian abaikan yang lainnya.

Gambar 2.4  Tampilan SPSS test Kolmogorov smirnov

4. Setelah itu, klik Data View pada pojok kiri bawah, dan masukkan data yang sudah dipersiapkan tadi, bisa dengan cara copy-paste.

Gambar 2.5 Tampilan SPSS Data Test

5. Langkah selanjutnya, pilih menu Analyze, lalu pilih Nonparametric Tests, klik Legacy Dialogs, kemudian pilih submenu 1-Sample K-S.

Gambar 2.6 Tampilan tes non paramentrik

6. Muncul kotak dialog dengan nama One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, selanjutnya masukkan variable nilai ke kotak Test Variable List dengan cara klik arah panah kanan, kemudian pada Test Distribution centang Normal.


Gambar 2.7 Tampilan SPSS Kolmogorov

7. Langkah terakhir yakni klik OK untuk mengakhiri perintah, selanjutnya lihat tampilan outputnya.

Gambar 2.8 Tampilan Hasil SPSS Test Kolmogorov

Analisis :

     1. Hipotesis

H0 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

H1 : Sampel berasal dari populasi berdistribusi tidak normal

     2. Pengambilan Keputusan

         Dasar  pengambilan keputusan berdasarkan nilai signifikansi :

                 Jika nilai asymp. Sig. (2-tailed) > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak

                 Jika nilai asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima

Dari output di atas diperoleh nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,157 > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga dari hipotesis yang telah dirumuskan dapat disimpulkan bahwa “Rata-rata nilai fisika berdistribusi normal”.

D.    UJI NON PARAMETRIK KRUSKAL-WALLIS

1.     Pengertian Uji Kruskal Wallis

Uji Kruskal-Wallis, sering pula disebut Uji H Kruskal Wallis, adalah rampatan uji jumlah rang (dwi sampel Wilcoxon) untuk sejumlah sampel k > 2. Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis Ho bahwa k sampel bebas berasal dari populasi yang sama. Diperkenalkan di tahun 1952 ole W.H. Kruskal dan W.A. Wallis, uji ini merupakan padanan cara non parametrik untuk menguji kesamaan rataan dalam analisis variansi faktor bila ingin mengehindari anggapan bahwa sampel berasal dari populasi normal. Jika dari populasi yang sama, maka rata-rata ke-k sampel tersebut tentu relatif sama atau tidak berbeda secara signifikan. Uji Kruskal Wallis merupakan bagian dari statistik non parametrik untuk data lebih dari dua sampel yang tidak saling berhubungan atau tidak berpasangan. Umumnya uji Kruskal digunakan oleh peneliti sebagai alternatif dari uji anova ketika salah satu atau seluruh sebaran data tidak berdistribusi normal. Uji Kruskal Wallis (Uji H) adalah salah satu uji statistik non parametrik yang dapat digunakan untuk menguji perbandingan lebih dari 2 Kelompok populasi yang independen dengan data berbentuk rangking. Merupakan perluasan dari Uji Mann Whitney (Uji U) dan alternatif dari uji anova satu arah saat asumsi statistik parametriknya tidak terpenuhi.

Analisis varians satu-arah berdasarkan peringkat Kruskal Wallis yaitu teknik non parametrik yang digunakan untuk   menguji   hipotesis nol yang menyatakan bahwa beberapa  sampel  telah  ditarik  dari   populasi populasi  yang sama atau identik. Dan apabila kasus yang diselidiki hanya dua sampel, maka uji Kruskal Wallis setara  dengan uji Mann-Whitney. Uji Kruskal Wallis  memanfaatkan  informasi yang  lebih  banyak ketimbang yang digunakan  pada uji median. Kruskal Wallis juga merupakan uji yang paling tidak berasal dari pengukuran yang menggunakan skala ordinal. (Walpole&Mayer, 1995).

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam uji kruskal wallis:

1.     Data untuk analisis terdiri atas k sampel acak berukuran n1, n2,...,nk.

2.     Variabel independen yang digunakan setidaknya berskala ordinal lebih dari 2 kategori

3.     Variabel yang diamati kontinyu.

4.     Skala yang digunakan setidaknya ordinal.

5.     Fungsi sebaran k-populasi identik atau beberapa populasi cenderung memiliki nilai yang lebih besar dari populasi lainnya

Pengujian data hasil penelitian dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov, dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a.     Hipotesis-hipotesis:

Ho : μA = μB = …. = μk (Rata-rata K populasi sama)

      H1 : μi ≠ μj untuk i dan j paling sedikit satu yang berbeda (rata-rata K populasi berbeda)

b.     Tentukan Taraf Singnifikansi α

(mencari tabel Chi-Square dengan d.f. = k – 1)

c.     Temukan jumlah peringkat untuk setiap sampel

Buat daftar peringkat data gabungan dalam urutan menaik.yaitu Ri. untuk i = 1, 2, ... , dst

d.     Menentukan nilai uji Statistik

Ø  Jika tidak terdapat angka kembar/sama, maka rumusnya adalah :


Ø  Jika erdapat angka kembar/sama, maka rumusnya adalah :

Di mana:

                  

         t = banyaknya observasi yang berangka sama

Sedangkan:


            Rumus Peringkat (diantara semua pengamatan)

                                                                                                                                                                                                                  (Larson & Farber, 2012)

e.     Uji Lanjut Kruskal Wallis

Karena diperkirakan ada satu perlakuan paling sedikit yang berbeda. Untuk mencari perlakuan mana yang berbeda dilakukan uji sebagai berikut :

Ho : μA = μv

H1 : μk > μv ; μk < μv ; μk ≠ μv


                Dimana :

                   

f.      Kriteria Uji H dan Kesimpulan

                                (Larson & Farber, 2012)

2.     Uji Kruskall Wallis Secara Manual dan Menggunakan SPSS

Analisis Kruskall-Wallis dilakukan dengan mengubah data yang berbentuk interval menjadi data berbentuk ordinal (rangking). Berikut ini adalah contoh penelitian yang analisisnya menggunakan Analisis Kruskall-Wallis :

Seorang Guru ingin meneliti apakah ada perbedaan nilai ujian Fisika yang signifikan diantara 20 siswa yang hobi membaca, olahraga dan musik. Masing-masing hobi serta nilai yang diperoleh siswa tersebut seperti pada tabel dibawah :

No

Nama

Hobi

Nilai Ujian Matematika

1

Andi

1

89

2

Zaki

1

87

3

Rina

1

99

4

Rini

1

90

5

Anggun

1

88

6

Basir

1

89

7

Intan

1

92

8

Fini

2

75

9

Rudi

2

65

10

Rangga

2

62

11

Siti

2

75

12

Wawan

2

76

13

Anis

2

77

14

Anggi

2

74

15

Angga

3

76

16

Dodi

3

74

17

Dodo

3

67

18

Dani

3

66

19

Fira

3

65

20

Indah

3

69

Tabel 3.1 Hobi Siswa dan Nilai Ujian Fisika

a)    Menentukan Secara Manual

-       Perumusan Hipotesis :

H0 : kemampuan siswa-siswa dari ketiga hobi tersebut sama

H1 : kemampuan siswa-siswa dari ketiga hobi tersebut tidak sama (nilai Tengah dari  

        ketiga hobi tersebut tidak sama).

-       Menentukan taraf signifikansi yaitu:

Dan Untuk menentukan nilai df kita menggunakan jumlah kelompok = k, dimana df = k-1. Sehingga nilai df = 3-1=2, maka, χ2 (α, df)  dapat dilihat pada tabel

-       Lihat tabel Chi-Square

Gambar 3.1 Distribusi Chi-Square

Dari tabel χ2 (0.05,2) = 5.991 Maka nilai kritiknya harus lebih besar dari 5.991, atau berada pada h(hitung) > χ(0.05,2) = 5.991. Artinya hasil perhitungan kruskal wallis untuk data kasus ini harus lebih besar dari 5,991 agar kita dapat menolak H.

-       Tentukan jumlah peringkat untuk setiap sampel

No

Nama

Hobi

Nilai Ujian Matematika

Urutan

Ranking

10

Rangga

2

62

1

1

9

Rudi

2

65

2

2.5

19

Fira

3

65

3

2.5

18

Dani

3

66

4

4

17

Dodo

3

67

5

5

20

Indah

3

69

6

6

14

Anggi

2

74

7

7.5

16

Dodi

3

74

8

7.5

8

Fini

2

75

9

9.5

11

Siti

2

75

10

9.5

12

Wawan

2

76

11

11.5

15

Angga

3

76

12

11.5

13

Anis

2

77

13

13

2

Zaki

1

87

14

14

5

Basir

1

88

15

15

1

Andi

1

89

16

16.5

6

Iin

1

89

17

16.5

4

Rini

1

90

18

18

7

Intan

1

92

19

19

3

Rina

1

99

20

20

                    Tabel 3.2 Data Peringkat atau Rangking

n

Hobi

Total Ranking

Rata-Rata Ranking

7

1. Membaca

119

17

7

2. Olahraga

54.5

7.79

6

3. Musik

36.5

6.08

                     Tabel 3.3 Total Peringkat atau Rangking

-       Menentukan Nilai H hitung

N = jumlah observasi gabungan 3 Hobi = 20 Sekarang, dengan mensubtitusikan Jumlah hobi dan peringkatnya, diperoleh :

 

Karena masih terdapat angka/nilai yang sama maka akan perlu disesuaikan menggunakan  :

 

Ranking

Jumlah Ties

t3 - t

2.5

2

6

7.5

2

6

9.5

2

6

11.5

2

6

16.5

2

6

Total

10

30

                Tabel 3.4 Jumlah Nilai yang Sama


                    -       Membuat Kesimpulan

Nilai kritis chi-square dengan derajat bebas k – 1 = 3 – 1 = 2 dan tingkat signifikansi 5% adalah 5,991.


Gambar 3.2 Daerah Penolakan Ho

Karena nilai statistik Kruskal-Wallis, yakni 13,318 lebih besar dari nilai kritis chi-square, yakni 5,991 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan kata lain terdapat perbedaan nilai Fisika yang signifikan berdasarkan ketiga hobi tersebut

b)    b). Menentukan Menggunakan SPSS

Identifikasi variabel

Variabel independen   : Hobi Siswa

Variabel dependen      : Nilai Ujian Fisika

H0 : kemampuan siswa-siswa dari ketiga hobi tersebut sama

H1 : kemampuan siswa-siswa dari ketiga hobi tersebut tidak sama (nilai Tengah dari  

        ketiga hobi tersebut tidak sama).

Untuk melakukan analisis di SPSS, berikut langkah yang harus dilakukan.

1.     Masukan data skor nilai ujian fisika pada kolom kedua

2.     Masukan kode jenis hobi pada kolom pertama. Kode identitas harus berupa angka, misal dalam analisis ini saya beri kode 1 untuk membaca, 2 untuk olahraga, dan 3 untuk musik.

3.     Masuk ke tab variable view, lalu beri nama variabel pertama dengan nama nilai ujian dan variabel kedua dengan nama hobi

Gambar 3.3 Data Nilai Test Uji H

4.     4. ada variabel pertama, klik bagian values, lalu beri identitas. Isikan value dengan angka 1 dan label dengan “Membaca”, klik add. Masukkan lagi value dengan angka 2 dan label dengan “Olahraga”, klik add. Lalu masukkan lagi value dengan angka 3 dan label dengan “Musik”, klik add. Maka kode kita sudah diterjemahkan.

          Gambar 3.4 Tampilan Value Label

        5    Mulai analisis dengan klik analyze – nonparametric test – legacy dialog – k independent samples

6.           6. Masukkan variabel nilai ujian ke test variables dan hobi ke grouping variables

7.     7. Klik define range, lalu tuliskan minimum 1 dan maximum 3

8.     8. Klik continue lalu OK

Gambar 3.5 Tampilan SPSS Tes Kruskal Wallis

Output analisis

Output analisis terbagi atas dua tabel. Tabel pertama berisi rangking, sedangkan tabel kedua berisi analisis statistik.


                                 Gambar 3.6 Tampilan Hasil SPSS Test Kruskal Wallis

Ananlisis statistik Kruskal-Wallis

Output utama dari analisis Kruskal-Wallis adalah pada tabel kedua. Untuk menguji hipotesis, kita bisa lihat pada nilai chi-square dan asymp sig. Dari hasil analisis didapatkan nilai chi-square sebesar 5,991 dengan p < 0,01. Patokan untuk menilai uji statistik adalah sebagai berikut.

·         jika sig: p > 0,05 maka tidak ada perbedaan.

·         jika sig: p < 0,05 maka ada perbedaan pada taraf sig 5%

·         jika sig: p < 0,01 maka ada perbedaan pada taraf sig 1%

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan konsentrasi antara kelompok musik pop, rock, dan klasik (chi-square= 5,991; p < 0,01). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan kata lain terdapat perbedaan nilai Fisika yang signifikan berdasarkan ketiga hobi tersebut

E.    UJI LANJUT (POST-HOC)

           Post-hoc (Latin, artinya "setelah ini") atau uji lanjut berarti menganalisis hasil data eksperimental Anda. Mereka sering kali didasarkan pada tingkat kesalahan; probabilitas setidaknya satu kesalahan Tipe I dalam satu set (kelompok) perbandingan.Dalam Pengujian Hipotesis kita dapat menarik kesimpulan apakah menerima atau menolak hipotesis, jika kita menolak hipotesis, artinya bahwa dari variabel-variabel yang kita uji terdapat perbedaan yang signifikan. Misalnya jika kita menguji 4 metode mengajar terhadap prestasi siswa, kita bisa menyimpulkan  bahwa ada perbedaan dari keempat metode tersebut. akan tetapi, kita tidak mengetahui  metode manakah yang berbeda dari keempatnya. secara statistik kita tidak bisa mengatakan bahwa yang terbaik hanya dengan memperhatikan rata-rata dari setiap metode tersebut. untuk menjawab pertanyaan metode manakah yang berbeda, maka statistika memiliki uji lanjut (Post Hoc) untuk mengetahui, variabel manakah yang memiliki variabel yang singnifikan. Didalam uji post hoc ada berbagai macam metode diantaranya:

Gambar 4.1 macam-macam metode Post Hoc

1.     Familywise Error

Familywise error juga dikenal sebagai inflasi alfa atau kesalahan kumulatif tipe I. Familywise merepresentasikan probabilitas bahwa salah satu dari rangkaian perbandingan atau uji signifikansi merupakan kesalahan tipe I. Jika uji dilakukan lebih banyak, maka kemungkinan bahwa satu atau lebih signifikan hanya karena kebetulan (kesalahan tipe I) meningkat. Kesalahan Familywise dapat diperkirakan dengan rumus berikut:

αFW =1- (1-α)c

(Keppel, G., & Wickens, T.D.: 2004)

di mana α FW adalah tingkat kesalahan Familywise, α adalah tingkat alfa untuk pengujian individu (hampir selalu dianggap 0,05), dan c adalah jumlah perbandingan. Jika α FW selalu lebih besar dari α, maka secara kuantitatif dikenal sebagai tingkat kesalahan perbandingan.

2.     Bonferroni

Uji Bonferroni (biasa disebut sebagai Dunn-Bonferroni) dirancang untuk mengontrol tingkat kesalahan Familiywise dengan hanya menghitung alfa berpasangan baru untuk menjaga nilai alfa Familywise di 0,05 (atau nilai tertentu lainnya). Rumus tersebu adalah sebagai berikut:

(Keppel, G., & Wickens, T.D.: 2004)

di mana α adalah alfa baru berdasarkan uji Bonferroni yang harus digunakan untuk mengevaluasi masing-masing perbandingan atau uji signifikansi, αFW adalah tingkat kesalahan Familywise yang diinginkan (seringkali 0,05, tetapi tidak perlu), dan c adalah jumlah perbandingan (uji statistik). Terdapat dua cara implementasi Uji Bonferroni, yang pertama yaitu mengunakan nilai p dari tes dan yang lain menggunakan uji statistik itu sendiri, sehingga:

(Keppel, G., & Wickens, T.D.: 2004)

Bonferroni mungkin adalah tes post hoc yang paling umum digunakan, karena sangat fleksibel mudah dihitung, dan dapat digunakan dengan semua jenis uji statistik (misalnya, korelasi) dan bukan hanya sebagai uji post hoc ANOVA. Hilangnya daya (kesalahan Tipe II lebih mungkin), yang lebih buruk untuk lebih banyak perbandingan, terjadi karena beberapa alasan: (1) kesalahan perhitungan k Familywise bergantung pada asumsi bahwa, untuk semua tes, hipotesis nol benar. Ini tidak mungkin terjadi, terutama setelah omnibus uji yang signifikan; (2) semua tes diasumsikan ortogonal (yaitu, independen atau tidak tumpang tindih) saat menghitung uji kesalahan Familywise, dan ini biasanya tidak terjadi jika semua dibuat perbandingan berpasangan; (3) tes tidak memperhitungkan apakah temuan tersebut sesuai dengan teori dan penelitian sebelumnya. Jika konsisten dengan temuan dan teori sebelumnya, hasil individu seharusnya lebih kecil kemungkinannya menjadi kesalahan Tipe I; dan (4) Tingkat kesalahan tipe II terlalu tinggi untuk pengujian individual. Dengan kata lain, Bonferroni mengoreksi kesalahan tipe I.

3.     Sidak-Bonferroni

Sidak menyarankan modifikasi dari formula Bonferroni itu akan memiliki dampak yang sedikit lebih kecil pada kekuatan statistik tetapi mempertahankan banyak fleksibilitas Metode Bonferroni. Berikut rumus pada Sidak-Bonferroni:


                                                                                                                                                                                                                                    (Keppel, G., & Wickens, T.D.: 2004)

Dengan α adalah level alfa Sidak-Bonferroni yang digunakan untuk menentukan signifikansi (kurang dari 0,05), αFW adalah kesalahan Familywise yang diinginkan (misalnya, 0,05, atau tingkat yang diinginkan oleh peneliti), dan c adalah jumlah perbandingan atau uji statistik yang dilakukan.


 

4.     Scheffe

Uji Scheffe menghitung nilai kritis baru untuk uji F yang dilakukan saat membandingkan dua kelompok dari ANOVA yang lebih besar (yaitu, koreksi untuk uji-t standar). Rumusnya hanya memodifikasi nilai kritis-F dengan memperhitungkan jumlah kelompok yang dibandingkan:

(Keppel, G., & Wickens, T.D.: 2004)

nilai kritis yang baru mewakili nilai kritis untuk kemungkinan tingkat kesalahan Familywise yang maksimum.

5.     Fisher LSD .

Uji Fisher LSD adalah singkatan dari uji Least Significant Difference. Uji LSD hanya rasional jika tes omnibus dilakukan dan signifikan, hipotesis nol salah . (Jika uji omnibus tidak signifikan, tidak ada uji post hoc yang signifikan dilakukan.) Penalaran didasarkan pada asumsi bahwa jika hipotesis nol salah, sebagai ditunjukkan oleh omnibus uji-F yang signifikan, kesalahan Tipe I sebenarnya tidak mungkin (atau kurang mungkin), karena hanya terjadi jika nol benar. Jadi dengan melakukan uji omnibus terlebih dahulu salah satunya sebagai penyaringan perbedaan kelompok yang ada karena kesalahan pengambilan sampel, dan dengan demikian mengurangi kemungkinan adanya kesalahan Tipe I. Uji LSD Fisher telah dikritik karena tidak cukup mengontrol kesalahan Tipe I. Namun, Fisher LSD terkadang ditemukan dalam literatur.

6.   Dunnet

Tes Dunnet mirip dengan tes Tukey (dijelaskan di atas) tetapi hanya digunakan jika sekumpulan perbandingan dibuat untuk satu kelompok tertentu, misalnya beberapa kelompok yang dibandingkan dengan satu kelompok kontrol.

7.     Tukey

Tukey juga dikenal sebagai Tukey's HSD  (Honest Significant Difference). Tes Tukey menghitung nilai kritis baru yang dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah ada perbedaan antara dua pasangan. Nilai kritis sedikit berbeda karena melibatkan perbedaan rata-rata yang seharusnya melebihi untuk mencapai signifikansi. Jadi seseorang menghitung satu nilai kritis dan kemudian selisihnya antara semua kemungkinan pasangan sarana. Setiap perbedaan kemudian dibandingkan dengan nilai kritis Tukey. Jika selisihnya lebih besar dari nilai Tukey, perbandingannya signifikan. Rumus nilai kritis adalah sebagai berikut:

                               

(Keppel, G., & Wickens, T.D.: 2004)

HSDTukey  adalah Studentized range statistic (mirip dengan nilai kritis-t, tetapi berbeda), MKd/nα adalah kesalahan kuadrat rata-rata dari uji-F keseluruhan, dan n adalah ukuran sampel untuk setiap kelompok.. Tes Tukey-Kramer digunakan ketika ukuran kelompok tidak sama. Ini penting untuk perhatikan bahwa keunggulan daya uji Tukey bergantung pada asumsi bahwa semua kemungkinan berpasangan perbandingan sedang dibuat. Kriteria pengujiannya adalah dengan membandingkan nilai Mutlak selisih kedua rata-rata yang akan kita lihat perbedaannya dengan nilai HSD dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

(Minium et al, 1993)

Tujuan tes Tukey adalah untuk mengetahui kelompok mana dalam sampel Anda yang berbeda. Ini menggunakan "Perbedaan Signifikan Jujur", angka yang mewakili jarak antar kelompok, untuk membandingkan setiap mean dengan setiap mean lainnya.Uji post hoc dapat dilakukan pada statistic parametrik maupun non parametrik. Misalnya pada non parametrik uji post hoc dapat dilakukan setelah uji  kruskall wallis dan juga uji mann whitney. Dalam Uji post Hoc pada kruskal wallis akan dilakukan apabila kesimpulan hasil akhirnya menerima H1 dari uji Kruskall Wallis adalah nilai P value, yaitu apabila nilainya < batas kristis misalkan 0,05 maka kita dapat menarik kesimpulan statistik terhadap hipotesis yang diajukan yaitu: Ada pengaruh variable a terhadap variable b atau yang berarti menerima H1 dan menolak H0. Sebagai contoh hasil pengujian hipotesis metode Kruskall Wallis dengan SPSS berikut ini




Gambar 4.2 Tampilan Hasil SPSS Test Kruskal Wallis

a)            a) Menentukan Menggunakan SPSS

Dalam kasus di atas, peringkat rata-rata nilai fisika hobi membaca lebih tinggi dari pada peringkat rata-rata hobi yang hobi olahraga. Peringkat rata-rata olahraga lebih tinggi dari pada peringkat rata-rata musik. Apakah perbedaan tersebut semua secara keseluruhan bermakna secara statistik, maka disinilah peran Uji Kruskall Wallis, yaitu mengukur secara statistik apakah besar perbedaan peringkat rata-rata signifikan ataukah tidak. Nilai P Value ditunjukkan oleh nilai Asymp. Sig. Jika nilai P Value < batas kritis penelitian maka keputusan hipotesis adalah menerima H1 dan menolak H0 atau yang berarti ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Maka perlu di uji lagi menggunakan uji lanjut (post hoc), sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.

Gambar 4.3 Tampilan Hasil Uji Post Hoc

Sehingga Dengan uji ini  kita bisa menilai antar kategori apakah yang ada perbedaannya signifikan. Pada kasus di atas maka uji post hoc yang dilakukan antara lain:

1. Perbedaan Nilai Ujian Siswa Antara hobi membaca dan olaharaga yang signifikan

    dimana sig: p < 0,05 -> 0,00 < 0,05

2. Perbedaan Nilai Ujian Siswa Antara hobi membaca dan musik yang signifikan

    dimana sig: p < 0,05 -> 0,00 < 0,05

3. Tidak ada Perbedaan Nilai Ujian Siswa Antara hobi olahraga dan musik yang signifikan

    dimana sig: p > 0,05 -> 0,639 < 0,05

Dari data di atas sudah jelas bahwa siswa yang hobi membaca lebih signifikan pengaruhnya terhadap hasil ujian fisika dari pada siswa yang hobi olahraga dan musik.

b)    Menentukan Secara Manual pada metode Tukey

Dengan contoh pada Hobi siswa dan analisis data nilai diperoleh sebagai berikut :

      Sumber Varians

JK

dk

MK

Fo

Ft

Efek Utama :

 Antar  Hobi 1 dan 2

 Antar  Hobi 1 dan 3

 Interaksi 2 dan 3

Dalam Kelompok

 

54.45

39.20

1.80

430.10

 

 

1

1

1

76

 

 

54.45

39.20

 1.80

 5.659

 

 

  9.621

  6.927

  0.318

 

3.97*)

3.97*)

3.97**)

Total

525.55

79

 

 

 

                    Tabel 4.1 Analisis Data

Keterangan :

A       = Hobi Siswa

B       = Nilai Ujian Fisika

*       =  Signifikan pada          α =0.05

**     = Tidak signifikan pada   α =0.05 

JK    =  Jumlah Kuadrat

dk     = Derajat Kebebasan

Mk    = Mean Kuadrat

Fo     = Harga varian hasil hitung.

Ft      = Harga varian pada tabel

a.     Uji Signifikansi  Perbedaan Hobi siswa terrhadap nilai ujian fisika

  MKd = 5,659



BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Uji statistik non parametrik Mann Whitney (U Test) disebut juga dengan Wilcoxon Rank Sum Test. Merupakan pilihan atau alternatif uji non parametris apabila uji Independent T Test tidak dapat dilakukan oleh karena asumsi normalitas tidak terpenuhi. Tetapi meskipun bentuk non parametris dari uji independent t test, uji Mann Whitney U Test tidak menguji perbedaan Mean (rerata) dua kelompok seperti layaknya uji Independen T Test, melainkan untuk menguji perbedaan Median (nilai tengah) dua kelompok.

Uji Kolmogorov Smirnov termasuk dalam uji statistik nonparametrik yang mana merupakan pengujian normalitas yang banyak dipakai. Kelebihan dari uji ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat yang lain, yang sering terjadi pada uji normalitas dengan menggunakan grafik.

Uji Kruskal Wallis ( H Test ) merupakan bagian dari statistik non parametrik untuk data lebih dari dua sampel yang tidak saling berhubungan atau tidak berpasangan. Umumnya uji Kruskal digunakan oleh peneliti sebagai alternatif dari uji anova ketika salah satu atau seluruh sebaran data tidak berdistribusi normal.

Uji post hoc atau uji lanjut berarti menganalisis hasil data eksperimental. Mereka sering kali didasarkan pada tingkat kesalahan; probabilitas setidaknya satu kesalahan.

B.    Saran

Sebagai peneliti khususnya mahasiswa, sebaiknya bahasan uji non parametrik dapat dipelajari lagi lebih mendalam dari berbagai literatur terutama pada bahasan uji Mann Whitney, uji Kolmogorov Smirnov, Kruskal Wallis dan lainnya karena penulis sadar didalam makalah ini tentu masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan yang perlu saran dan masukan untuk perbaikan, apalagi jika nanti nya ingin melakukan penelitian-penelitian yang membutuhkan tes-tes tersebut misalnya membandingkan dua variabel yang diukur dari sampel yang tidak sama menggunakan tes kruskal wallis atau membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi  yang sama menggunakan uji Mann Whitney U, dan lain sebagainya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andi. 1998. Panduan lengkap SPSS 6.0 for windows. Yogyakarta: Wahana Komputer

Hartanto Dicki. 2019. Statistik Riset Pendidikan . Pekan Baru: Cahaya Firdaus

Larson, R. dan Farber, B.. 2012. Elementary Statistics Picturing The World Fifth Edition. Prentice Hall

Minium, E. W.; King, B. M.; dan Bear, G.. 1993. Statistical Reasoning in Psychology and Education. Canada: John Wiley & Sons, Inc.

Jaya Indra. 2010. Statistik Penelitian untuk Pendidikan. Bontang: Cita Pustaka Media Perintis

Ugiana, Prana. 2016. Belajar Olah Data dengan SPSS. Penerbit USU Press. Medan

Susetyo, Budi . 2012. Statistika untuk Analisis Data Penelitian. Bandung : PT. Refika Aditama

Sheskin, David. 2000. Handbook of parametric and nonparametric statistical procedures.

 Washington  : CRC Press

Walpole, R. E.; Myers, R. H.; Myers, S. L.; dan Ye, K.  2012. Probability & Statistics for Engineers & Scientists. Prentice Hall.

Analisis-kruskall-wallis”. www.semestapsikometrika.com. 20 September 2020.

https://www.semestapsikometrika.com/2018/11/analisis-kruskall-wallis-dengan-spss.html

 

Frisztado. 2011. Uji statistik parametrik dan  non parametrik. https://frisztado.wordpress.com/2010/10/21/kelebihan-dan-kekurangan-statistik-non-parametrik-dan-statistik-parametrik

 

Mann-whitney-u-test”.www.statistikian.com. 20 September 2020.

https://www.statistikian.com/2014/04/mann-whitney-u-test.html

 

Uji-kruskal-wallis-dengan-spss”. www.spssindonesia.com. 20 September 2020.

https://www.spssindonesia.com/2018/11/uji-kruskal-wallis-dengan-spss.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar